Jurnal 1



DI TENDA
Lembar daun, batu, dan angin. Terlalu dingin untuk berkata, terlalu awal untuk memulai. Lembut, keras, dan tenang. Riuh itu tak lagi berucap. Berdialog saja enggan. Lembut jatuh diatas, menepuk pundak yang kasar namun tetap tenang, tanpa riuh. Sudah berani memulai? Namun enggan untuk berucap. Untuk menyusun sebuah kata menjadi kalimat terucap tak banyak detik. Namun semua terlalu dahulu berkata “tidak”. Daun, batu, dan angin. Jatuh tak bersuara, terlempar tak bergema, ditiup terbalas dingin. Masih sepagi ini untuk membuka mata, merunduk sayu, basah dan hangat. Itu air mata. Sudah berani memulai? Untuk sejauh kelana tapi pelan. Saat ini tetap “tidak”. Menunggu bagaimana untuk jatuh, terlempar, dan ditiup. Lembar daun, batu, dan angin.
Dingin menyapa, berkata pesan untuk sebuah mata. Berjalan namun tersandung, berlari namun terjungkur. Dingin menyapa. Diam tak terbalas sapa. Masih bertanya, aku siapa? Lantas arti jarak itu apa? Sebab tak pernah waktu dapat berbicara. Dingin menyapa. Itu kamu. Di tenda.

Komentar